Amplifier Bagi Siti

Bagikan agar bergema

“Amplifier Bagi Siti”, karya Rosdi Bahtiar Martadi, Ballpoint di atas kertas HVS A4

Dua hari yang lalu. Di sela-sela aksi perempuan yang menolak tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu, Siti Diah Susanti (34 th) kepada Koordinator Forum Komunikasi Mahasiswa dan Masyarakat (ForkoMM) Anang Suindro menyampaikan keresahannya. Sebuah kegelisahan seorang perempuan Desa Sumber Agung, Kec. Pesanggaran, Banyuwangi yang tak ingin masa depannya kelak berisi ketakutan bertetangga dengan sianida.

Sianida adalah bahan beracun yang akan dipakai PT Bumi Suksesindo (BSI) untuk memurnikan emas yang berada di bawah tanah Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu.

Di balik kilapnya yang dimitoskan sebagai lambang kejayaan dan kemakmuran, ternyata emas adalah logam yang belum bisa membebaskan dirinya dari bahan beracun seperti merkuri dan sianida. Mengapa? Karena hingga hari ini proses pemurnian emas itu hanya dua pilihannya: jika tak menggunakan merkuri, ya memakai sianida. Itu pun masih harus didahului dengan proses pengerukan—bahkan pemboman—tanah dengan skala raksasa. Dalam setiap 1 ton tanah, emas yang dihasilkan hanyalah 0,3 gram (data cut of grade Andal BSI halaman 1 – 21).

Keresahan Siti Diah Susanti adalah keresahan yang beralasan karena tambang yang hendak mengepras Gunung Tumpang Pitu tersebut letaknya hanya 3 km dari pemukiman warga. Hidup bersama sianida sedekat itu tentu bukanlah perkara main-main. Selain faktor jarak yang teramat dekat, faktor lainnya adalah luasan “arena bermain” sianida itu sendiri.

Jika berdasarkan tabel 1.2 Fasilitas Penambangan (Dokumen Andal PT BSI halaman 1-7), setidaknya ada dua “arena bermain” bagi bahan mematikan itu. Pertama, “arena bermain” yang bernama Heap Leach Pad (Tempat Pelindian) dengan luas 57 hektar. Kedua, “arena bermain” yang bernama Ponds butuh area sebesar 24 hektar. Jadi, “arena bermain” bagi sianida total seluruhnya seluas 81 hektar, atau setara dengan luas 75 lapangan sepak bola.

Jika “arena bermain” sianida tersebut jadi direalisasikan, maka tentunya bisa dibayangkan bagaimana masa depan Tumpang Pitu dan Siti Diah Susanti kelak.

Hubungan Siti Diah Susanti dengan Gunung Tumpang Pitu adalah hubungan tetangga baik. Tumpang Pitu tak hanya memasok oksigen bagi Siti dan warga lainnya, tetapi Tumpang Pitu telah menjadi benteng alami bagi warga untuk berlindung dari daya rusak bencana Tsunami.

Bertetangga dengan pemasok oksigen dan benteng pelindung tentulah merupakan hubungan pertetanggaan yang baik. Namun, hubungan pertetanggaan ini bisa berubah jadi horor jika penguasa tetap bersikukuh mengizinkan tambang emas Tumpang Pitu. Hubungan pertetanggaan yang mulanya baik-baik saja itu akan berubah jadi hubungan pertetanggaan yang meresahkan. Ya, meresahkan, karena Tumpang Pitu yang sebagai pemasok oksigen dan benteng pelindung akan berubah jadi “arena bermain” sianida dengan luas 75 kali lapangan sepak bola.

Menjadi wajar jika Siti enggan bertetangga dengan“arena bermain” sianida dengan luas 75 kali lapangan sepak bola. Dan menjadi lumrah, jika keengganan Siti ini mendorong dirinya turun aksi di pemula bulan Maret ini.

Bertetangga dengan “arena bermain” sianida yang luasnya 75 kali lapangan bola adalah bayangan masa depan yang buruk. Sadar bahwa masa depan yang buruk itu harus ditepis, maka Siti beserta perempuan lainnya turun aksi. Siti memilih untuk tidak hanya duduk diam pasrah menyerahkan nasibnya kepada terkaman sianida. Siti beserta perempuan lainnya memilih berbuat sesuatu. Karena baginya, diam bukanlah pilihan.

Siti telah menyampaikan curahan isi hatinya kepada ForkoMM. Dan ForkoMM mencoba merespon keresahan Siti dengan hal-hal yang paling mungkin mereka (ForkoMM) lakukan.

Beberapa kawan-kawan ForkoMM beberapa hari lalu telah membersamai Siti dan kawan-kawannya. Mereka (ForkoMM) telah berusaha menjadi pendengar keresahan-keresahan perempuan-perempuan kaki Gunung Tumpang Pitu.

Siti telah menyuarakan keresahannya. Lantas apa yang bisa kita lakukan?

Kita bisa membuat suara Siti jadi lebih keras volumenya dan lebih luas jangkauannya. Kita bisa menjadi amplifier bagi Siti.

Ada banyak cara untuk untuk menjadi amplifier bagi Siti. Demonstrasi adalah salah satu pilihan untuk menjadi amplifier bagi Siti, namun itu bukan satu-satunya cara. Itu hanya salah satu cara. Apapun skill yang kau miliki, apapun profesi yang kau tekuni, kau bisa menjadi amplifier bagi Siti. Modalnya hanya dua, yakni kepedulian dan kemauan.

Bagaimana caranya menjadi amplifier bagi Siti?

Kali ini, saya jadikan gambar karya saya sebagai amplifier bagi Siti. Sementara itu, kau bisa jadi amplifier bagi Siti dengan caramu sendiri. Pilih gaya yang kau sukai.

Jika kau pebisnis kaos, kau bisa sisihkan sebagian kaosmu untuk disablon dengan pesan-pesan penyelamatan Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu.

Jika kau seorang kartunis, kau bisa gunakan karikaturmu untuk jadi amplifier bagi Siti.

Jika kau seorang penyair, kau bisa mengeraskan suara Siti melalui puisi-puisimu.

Jika kau musisi, kau bisa dedikasikan lagu ciptaanmu untuk mendukung perjuangan Siti.

Jika kau film-maker, maka tantanglah dirimu untuk membuat film yang mendokumentasi keresahan Siti beserta perempuan-perempuan Tumpang Pitu lainnya.

Jika kau mahasiswa, maka jangan jadikan dirimu sebagai mahasiswa penerima beasiswa CSR perusahaan tambang, karena hal itu akan melukai hati Siti beserta perempuan Tumpang Pitu lainnya.

Jika kau aktivis teater, kau bisa jadikan pementasan-pementasanmu sebagai amplifier bagi Siti.

Jika kau barista, kau bisa membuat topping berisi pesan-pesan penyelamatan Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu di kopi racikanmu.

Jika kau pembuat kue tart, kau bisa membuat kue tart dengan topping berisi pesan penyemangat perjuangan Siti dan kawan-kawannya. Potret kue tart tersebut kemudian bagikan di media sosial yang kau miliki.

Dan masih banyak lagi.

Ada banyak cara untuk menjadi amplifier bagi Siti. Ada banyak cara untuk menyuarakan keselamatan warga. Ada banyak hal yang bisa kita perbuat agar Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu tidak punah. Jangan diam.

|

Rosdi Bahtiar Martadi,

Banyuwangi, 11 Maret 2017


Bagikan agar bergema