Bawa Bekal Dari Ibu, Demi Tumpang Pitu

Bagikan agar bergema

Musik tak hanya jadi media pencapai kegembiraan. Selain sebagai saluran aktualisasi, musik juga dijadikan media untuk melawan ketimpangan sosial dan regulasi pemicu degradasi lingkungan. Secara praksis, hal tersebut telah diperagakan oleh musisi Jerinx (Superman Is Dead) dan Mike (Marjinal). Terpantik oleh sikap yang selama ini telah dipilih oleh Jerinx dan Mike, komunitas Outsider Banyuwangi dan beberapa kota sekitarnya, hari Minggu 1 Juli 2018 lalu turun aksi di kawasan Patung Kuda Jalan Kepiting Banyuwangi.

Juru bicara Outsider Firman menjelaskan, kehadiran OSD (demikian biasanya Outsider disingkat) di kawasan Patung Kuda tersebut dimaksudkan untuk memberikan dukungan kepada warga Tumpang Pitu yang hari itu sedang melakukan konvoi penjemputan Heri Budiawan alias Budi Pego.

“Tambang emas Tumpang Pitu adalah contoh kebijakan yang tak peduli lingkungan. Sementara, Budi Pego adalah korban dari kebijakan tersebut. Karena Jerinx dan Mike menyerukan kepada kami agar melawan kebijakan yang merusak lingkungan, maka di mata kami; kami dan Budi Pego itu ada di pihak yang sama. Karena itu, hari ini kami turun jalan untuk memberikan dukungan kepada warga Tumpang Pitu dan Budi Pego,” tutur Firman.

Sekadar informasi, Outsider adalah sebutan bagi penggemar band asal Bali Superman Is Dead (SID). Sebutan Outsider ini dikhususkan bagi mereka yang lelaki. Sedangkan, untuk penggemar perempuan disebut Lady Rose.

Hari itu Firman tak sendiri. Selain OSD, dua komunitas lainnya juga turun di kawasan Patung Kuda. Mereka Kamtis Family Banyuwangi (KFB) dan Solidaritas Perjuangan. Kamtis Family adalah komunitas penggemar band asal Yogyakarta Endank Soekamti, sementara Solidaritas Perjuangan adalah komunitas anak-anak muda Banyuwangi lintas minat yang telah beberapa kali turun aksi.

Militansi anak-anak OSD, Solidaritas Perjuangan, dan Kamtis Family Banyuwangi ini tak perlu diragukan lagi. Mereka rela selama 2 Jam menunggu konvoi warga Tumpang Pitu. lebih kurang 60 km jarak yang mesti ditempuh konvoi warga Tumpang Pitu. Jarak sejauh ini menjadikan waktu tempuh konvoi tersebut menjadi lama. Namun semua itu tak menyurutkan semangat anak-anak OSD, Solidaritas Perjuangan, dan Kamtis Family Banyuwangi. Mereka tetap menunggu konvoi tersebut tiba melintas kawasan Patung Kuda, Banyuwangi.

Demi menjaga kemurnian aksinya, anak-anak OSD, Solidaritas Perjuangan, dan Kamtis Family Banyuwangi ini membiayai sendiri aksinya. Fundraising (penggalangan dana) mereka lakukan sebelumnya lewat penjualan kaos dan merchandise lainnya. Bahkan banyak di antara mereka membawa bekal makanan dari rumah ketika hendak berangkat menuju kawasan Patung Kuda. Seperti yang tampak dalam foto, seorang anggota Kamtis Family Banyuwangi tengah menikmati nasi bungkus. “Ini sebenarnya sarapan yang telat. Tapi tak masalah. Demi Tumpang Pitu, ini tak masalah,” katanya sambil tertawa.

Sarapan yang rada telat? Memang iya. Pukul 08.00 wib anak-anak OSD, Solidaritas Perjuangan, dan Kamtis Family Banyuwangi ini telah berkumpul di Patung Kuda. Sementara konvoi warga Tumpang Pitu baru melintas pada pukul 10.19 wib. Namun urusan sarapan telat ini kalah oleh kegembiraan dan militansi mereka. “Lagian solusinya sederhana. Bisa diatasi oleh nasi bungkus yang kami bawa dari rumah,” ujar salah seorang dari mereka.

Tanggal 1 Juli 2018 lalu, Budi Pego bebas demi hukum berdasarkan Berita Acara Pengeluaran Tahanan Demi Hukum Nomor: W15.PAS.PAS 21.PK.01.01.01-/35/. Berita acara yang ditandatangani oleh Plh Kepala Lapas Sunaryo, SH ini dibuat berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Banyuwangi Nomor: 559/Pid.B/2018/PN Byw tanggal 1 Juli 2018.

Bebasnya Heri Budiawan alias Budi Pego ini disambut warga Tumpang Pitu lewat aksi konvoi Tumpang Pitu-Lapas Banyuwangi pulang pergi. Berbagai komunitas ikut berpartisipasi dalam aksi penyambutan bebasnya Budi Pego ini. Salah satu partisipan aksi ini adalah mereka yang tergabung dalam OSD, Solidaritas Perjuangan, dan Kamtis Family Banyuwangi.

“Kasus Budi Pego dan persoalan Tumpang Pitu ini adalah masalah lingkungan hidup. Kami ingin menunjukkan kepada semua pihak, bahwa masalah lingkungan hidup itu tak hanya menjadi urusan aktivis lingkungan. Masalah lingkungan hidup itu adalah masalah semua manusia, apapun etnisnya, agamanya, dan apapun ideologinya,” jlentreh Firman.

Untuk diketahui. Setelah 10 bulan berlalu, akhirnya Budi Pego bisa menghirup udara bebas di sela-sela upayanya menanti keputusan Mahkamah Agung.

Upaya banding dan kasasi telah dilakukan Budi Pego bersama para advokat yang tergabung dalam Tekad Garuda. Dalam siaran pers-nya belum lama ini, Tekad Garuda menyatakan, bahwa penjeratan Budi Pego lewat pasal 107 huruf a UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan KUHP yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara adalah upaya untuk menggeser masalah yang sebenarnya. Masalah yang sebenarnya adalah pembungkaman sikap kritis warga penolak tambang emas Tumpang Pitu.

Sebelum kasasi, pada tanggal 23 Februari 2018 Tekad Garuda memasukkan memori banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur. Upaya banding dilakukan setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banyuwangi yang diketuai Putu Endru Sonata pada tanggal 23 Januari 2018 menjatuhkan vonis 10 Bulan kepada Budi Pego.

Sebagai informasi, Budi Pego disidang karena hubungan dirinya dengan sebuah demonstrasi warga untuk menolak tambang emas Tumpang Pitu. Demonstrasi tersebut berlangsung pada bulan April 2017. Budi Pego dijerat pasal 107 huruf a UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan KUHP yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara. Ada spanduk dengan gambar yang identik dengan logo sebuah partai terlarang dalam aksi tersebut. Spanduk inilah yang membuat Budi Pego dikenai pasal 107 huruf a UU Nomor 27 Tahun 1999.

Walau keberadaannya janggal, dan sekarang spanduk tersebut misterius, tetapi Budi Pego tetap ditahan oleh Kejaksaan Negeri Banyuwangi dengan tuduhan menyebarkan paham terlarang. Warga melakukan aksi penolakan tambang emas di Tumpang Pitu karena meyakini tambang emas akan merusak lingkungan tempat mereka tinggal. Namun perjuangan warga untuk masa depan lingkungan yang baik ini mesti terhambat oleh isu komunisme. Tak hanya Budi Pego yang didera hembusan isu ini, ada 3 orang warga lainnya yang terbelit tiupan isu ini, hingga polisi juga memeriksa Ratna, Andreas, dan Trimanto.

Gunung Tumpang Pitu dibutuhkan warga sebagai benteng alami dari daya rusak tsunami. Tumpang Pitu dan sekitarnya adalah Kawasan Rawan Bencana (KRB). Sebagai KRB, seharusnya Hutan Lindung G. Tumpang Pitu dikonservasi, penambangan di KRB justru menambah angka kerentanan KRB itu sendiri. Karenanya menjadi beralasan jika tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu ditolak.

Demi tambang emas, Zulkifli Hasan yang saat itu sebagai menteri kehutanan, telah mengubah status hutan lindung Tumpang Pitu sebagai hutan produksi. Pengubahan status ini dilakukan Zulkifli Hasan pada tanggal 19 November 2013 dengan menerbitkan surat keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor SK.826/Menhut-II/2013. Dalam surat tersebut, Zulkifli Hasan sebagai menteri kehutanan mengalihfungsi Tumpang Pitu dari hutan lindung menjadi produksi seluas 1.942 hektar. Penurunan status Tumpang Pitu ini dilakukan oleh Zulkifli Hasan setelah ada usulan dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.. Pada tanggal 10 Oktober 2012, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas lewat surat nomor 522/635/429/108/2012 mengusulkan perubahan fungsi kawasan hutan lindung seluas 9.743, 28 hektar. Usulan Bupati Abdullah Azwar Anas ini direspon Zulkifli Hasan dengan mengalihfungsi Tumpang Pitu seluas 1.942 Hektar. Alihfungsi ini dilakukan Zulkifli Hasan dengan menerbitkan surat No. SK.826/Menhut-II/2013. (Time Media ForBanyuwangi)


Bagikan agar bergema