Gunretno: “Kuatkan Rasa Saling Memiliki”

Bagikan agar bergema

Petani Bongkoran bersama Gunretno (kaos putih), Sabtu 3 Juni 72017. Foto: Gunretno kepada Herlambang P Wiratraman. 

Banyuwangi — Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Gunretno, berkunjung ke Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu 3 Juni 2017. Kedatangannya untuk memberi dukungan kepada petani Kampung Bongkoran Wongsorejo dan gerakan menolak pertambangan emas Tumpang Pitu.

Gunretno tiba di Banyuwangi sekitar pukul 15.00 WIB. Perjalanannya ke ujung timur Jawa tersebut, usai menghadiri acara “Kendeng Berdendang”, sebuah aksi solidaritas warga Bali untuk perjuangan warga Kendeng di Rumah Sanur, 2 Juni 2017.

Ratusan petani Kampung Bongkoran menyambut kedatangan Gunretno di Omah Tani. Menurut Ketua Organisasi Petani Wongsorejo Banyuwangi (OPWB) Yatno Subandio, perjumpaan dengan Gunretno ini adalah kali kedua. Tahun lalu, kata dia, sejumlah petani perempuan Bongkoran bersolidaritas dengan mengikuti longmarch petani Kendeng dari Rembang ke Semarang.

Gunretno berada di Bongkoran sekitar satu jam. Yatno bercerita, Kang Gun –sapaan akrab Gunretno, berbagi kisah mengenai perjuangan petani Kendeng menolak berdirinya pabrik semen. “Kang Gun meminta kami untuk menguatkan rasa saling memiliki, dan menjaga kebersamaan,” kata Yatno, kepada forbanyuwangi.org.

Petani Kampung Bongkoran hingga hari ini masih menghadapi konflik agraria. Konflik tersebut berawal saat diberikannya izin hak guna usaha (HGU) kebun randu seluas 603 hektare kepada PT Wongsorejo pada 1980. HGU tersebut sejatinya berakhir pada 2012, namun pemerintah memberikan izin Hak Guna Bangunan kepada perusahaan yang sama. Perusahaan yang didukung Pemerintah Banyuwangi akan membangun kawasan industri bernama Banyuwangi Industrial Estate Wongsorejo (BIEW). Padahal seluas 220 ha di antaranya telah ditempati sekitar 287 kepala keluarga sejak 1950-an. Ketika HGU habis, petani Bongkoran menuntut hak tanahnya itu sebagai permukiman dan pertanian. Namun permintaan petani itu ditolak. Pemerintah Banyuwangi dan PT Wongsorejo hanya bersedia memberikan lahan seluas 60 hektar.

Usai mengunjungi Kampung Bongkoran, Gunretno bertemu sejumlah aktivis dari Forum Komunikasi Mahasiswa dan Masyarakat (ForkoMM), Front Nahdiliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), dan Forum Rakyat Banyuwangi (ForBanyuwangi). Ketiga elemen tersebut selama ini aktif mendukung gerakan rakyat menolak pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu.

 

Kepada para aktivis, Gunretno bercerita panjang mengenai sejarah perlawanan Sedulur Sikep untuk menolak pabrik semen yang akan menghancurkan Pegunungan Kendeng. “Tahun 2010, saya berkeliling dengan istri untuk meyakinkan warga Pati mengenai rencana berdirinya pabrik semen,” kata tokoh Sedulur Sikep ini.

Sedulur Sikep merupakan masyarakat adat yang turun-temurun menempati wilayah di sepanjang kawasan Pegunungan Kendeng, yang membentang dari Kabupaten Blora dan Pati, Jawa Tengah hingga Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur.

Warga Sedulur Sikep adalah pengikut ajaran Samin Surosentiko, seorang tokoh dari Blora yang melawan kolonial Belanda pada 1890 dengan menolak membayar pajak karena dinilai membebani petani.

Rencana pembangunan pabrik semen dimulai tahun 2005 yang diawali oleh PT. Semen Gresik yang akan mendirikan pabrik di empat kecamatan diantaranya Sukolilo, Kayen, Gabus, dan Margorejo, yang terbagi dalam empat belas desa dengan total luas lahan 1.350 hektar. Namun, PT. Semen Gresik gagal melakukan kegiatan eksplorasi di kawasan Kendeng karena penolakan warga (Mongabay, edisi 6 Maret 2017). Gagal di Pati, Pegunungan Kendeng kembali terancam oleh PT Semen Indonesia yang berdiri di Kabupaten Rembang.

Gunretno adalah penggerak petani di kawasan Kendeng melawan pabrik semen. Aksi yang dilakukan mencuri perhatian nasional hingga internasional. Pada 2014 misalnya, ibu-ibu Kendeng memblokade jalan menuju pabrik PT Semen Indonesia dengan mendirikan tenda lebih dari 160 hari. Selain itu, petani beberapa kali melakukan aksi jalan kaki dari Rembang ke Semarang dan mengecor kaki di depan Istana Negara. Gerakan petani Kendeng telah memberi inspirasi dan semangat kepada pejuang lingkungan lainnya. (Ika Ningtyas)


Bagikan agar bergema