Istigosah dan Berbagai Solidaritas untuk Budi Pego

Bagikan agar bergema

Banyuwangi — Sekitar 25 aktivis Laskar Hijau dari Lumajang dan Banyuwangi menggelar istigosah menjelang vonis Heri Budiawan alias Budi Pego, Senin malam 22 Januari 2018. Doa bersama itu untuk meminta kepada Allah SWT agar Budi Pego dibebaskan dari segala tuntutan hukum.

Doa bersama itu digelar di rumah Lukman Hakim, salah satu aktivis Laskar Hijau di Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Acara dipimpin oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhsan, Wotgalih, Yosowilangun, KH Fiil Maadi, dan dihadiri oleh kordinator Laskar Hijau asal Klakah Lumajang, Aak Abdullah Al Kudus.

Sebelum doa bersama, acara didahului dengan ceramah dari KH Fiil Maadi tentang bagaimana Islam mewajibkan umatnya untuk melestarikan alam. Setelah itu disambung dengan penjelasan dari Aak Abdullah tentang dampak pertambangan emas di Tumpang Pitu bagi alam dan manusia yang tinggal di sekitarnya. Di bagian akhir, Hari Kurniawan sebagai salah satu kuasa hukum Budi Pego memaparkan mengenai proses persidangan yang telah dilampaui Budi Pego sebanyak 20 kali.

KH Fiil Maadi mengatakan, kedatangannya ke Banyuwangi sebagai bentuk solidaritas karena memiliki kepentingan yang sama untuk melestarikan alam. Apalagi kasus yang menjerat Budi Pego tergolong rekayasa karena tidak didukung oleh saksi dan barang bukti.

“Tanggung jawab untuk melestarikan alam itu tidak ada batas administratif. Kami bersaudara dengan pejuang lingkungan di Banyuwangi karena sama-sama sedang berjuang untuk kelestarian alam,” kata Fiil Maadi.

Melalui doa bersama tersebut, dia berharap, Allah SWT memberikan segala pertolongan kepada Budi Pego dan warga Tumpang Pitu yang berjuang menyelamatkan alamnya. “Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada hakim dan semua pejabat di Banyuwangi,” katanya.

Senada dengan KH Fiil Maadi, pendiri Laskar Hijau, Aak Abdullah, mengatakan, kehadiran Laskar Hijau untuk memberikan dukungan moral kepada Budi Pego. Dia meyakini bahwa kasus yang menjerat Budi Pego murni sebagai bentuk kriminalisasi. “Tidak ada dasar saksi dan bukti yang jelas,” kata Aak yang aktif mengembalikan lahan hijau di lereng Gunung Lemongan ini.

Selain dari Laskar Hijau, doa bersama juga digelar oleh Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam(FNKSDA), Gusdurian dan PMII Semarang. Mereka menggelar doa bersama di Pondok Pesantren Riyadhul Jannah BPI, Ngaliyan, Semarang, Senin malam.

Sekjend AMAN Rukka Sombolinggi

Tidak hanya doa bersama, solidaritas dengan berfoto di media sosial datang dari segala penjuru Tanah Air. Dukungan lewat media sosial Facebook di antaranya dilakukan oleh Jaringan Masyarakat Penyelamat Pegunungan Kendeng (JMPPK), aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) termasuk Sekjend AMAN, Rukka Sombolinggi; aktivis Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK); Serikat Juru Parkir Makassar, Yayasan Garumbang FC Makassar, aktivis Komite Bersama Reformasi (KBR) Yogyakarta, Gusdurian Bondowoso, aktivis LBH Semarang, dan puluhan mahasiswa dari berbagai kampus.

Budi Pego akan menghadapi vonis dari majelis hakim Pengadilan Negeri Banyuwangi, Selasa 23 Januari 2018. Sebelumnya, jaksa menuntutnya 7 tahun penjara karena dianggap bersalah melanggar Pasal Pasal 107 huruf a UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan KUHP yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara.

Pasal 107a tersebut berbunyi: “Barangsiapa melawan hukum di muka umum, baik dengan lisan, tulisan dan atau media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme dalam segala bentuk dan perwujudannya diancam hukuman penjara 12 tahun”.

Pria 37 tahun itu dipidana setelah muncul spanduk berlogo mirip palu arit dalam unjuk rasa yang dilakukan warga termasuk Budi Pego pada 4 April 2017. Ayah dua anak ini dianggap sebagai kordinator aksi. Janggalnya, spanduk berlogo palu arit itu tidak pernah berhasil dihadirkan di persidangan. Termasuk juga tidak seorangpun saksi mengaku melihat spanduk itu dibuat atau diinstruksikan oleh Budi Pego.

Tim Media ForBanyuwangi


Bagikan agar bergema