Menegakkan Jihad Bi’iyah Hasil Muktamar NU ke 29 Cipasung: Dalam Konteks Tambang Emas di Tumpang Pitu

Bagikan agar bergema

Foto Tumpang Pitu dari dusun Pancer

Mengenal Banyuwangi

Setiap saat Banyuwangi terasa mendung, seperti biasa sejuk sekali hawanya. Kota kecil yang mulai bergeliat, bersemarak, menjadi satu kota destinasi wisata baru. Pertumbuhan ekonomi mulai bergeliat naik, harga-harga mulai merangkak juga. Hidup di Banyuwangi menawarkan sesuatu yang berbeda.

Jauh dari hiruk pikuk perkotaan sebagai penyokong ekonomi, berjejer destinasi wisata yang siap untuk dikunjungi. Mulai dari wisata pantai hingga gunung. Cukup familiar dengan Ijen, Teluk Ijo atau Sukamade, yang menjadi tujuan utama para wisatawan ketika libur tiba.

Belum lagi wisata budaya yang menjadi sesuatu yang patut dirasakan. Wisata suku Osing, tarian tradisional semacam gandrung dan aneka budaya yang khas. Keberagaman Banyuwangi menjadi hal yang layak dicermati, berbagai suku tumpah ruah disini. Mulai dari Jawa, Madura, Bali, Bugis dan tentu saja osing. Dari diversitas inilah muncul keunikan, ciri khas dari kebudayaan di Banyuwangi.

Keberagaman lain juga dapat dilihat dari keberadaan kepercayaan. Mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan kepercayaan tradisional lainnya. Saling membaur menjadi satu, menguatkan sebuah society dalam pluralitas. Menjadi tempat yang cukup menarik untuk dihuni atau sekedar berkunjung.

Namun modernitas mulai menggiring opini yang indah-indah. Melalu jargon investasi untuk semua, serta dalih kesejahteraan sosial tengah mengancam keberagaman. Wisata yang mulai masif menjadi industri, hingga bentuk eksploitasi berlebih atas alam dan manusia, tengah mengancam Banyuwangi.

Bukan hanya soal budaya, agama dan ruang hidup, tetapi sendi-sendi penting kehidupan tampaknya mulai terancam. Baru-baru ini Tumpang Pitu akan dihancurkan oleh industri emas. Segregasi mulai tampak terlihat, baik hubungan intra-komunitas, agama, budaya dan alam itu sendiri. Selain itu sektor ekonomi juga tak kalah terancam.

Keputusan gegabah dari pemerintah membuka investasi besar-besaran, telah mengancam suatu wilayah dalam jangka waktu dekat. Keputusan memberikan izin konsesi pada Merdeka Cooper Gold, yang seluruh areanya meliputi bekas kawasan lindung Tumpang Pitu merupakan sinyalemen “kiamat kecil”.

Melalui izin peralihan hutan lindung menjadi produksi pada tahun 2013, melalui SK Kemenhut saat itu. Dilanjutkan dengan pemberian konsesi tambang, yang berlokasi di kecamatan pesanggaran. Konsesi IUP Merdeka Cooper Gold dipecah menjadi tiga, melalui BSI, DSI dan CBS. Lokasi IUP BSI dan DSI terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Propinsi Jawa Timur, dengan IUP OP BSI seluas 4.998 ha, dan IUP Eksplorasi DSI seluas 6.623 ha. IUP OP milik BSI akan berlaku sampai dengan 25 Januari 2030 dan IUP Eksplorasi milik DSI berlaku sampai dengan 25 Januari 2016. Sementara untuk yang CBS belum diketahui keberlanjutannya. DSI sendiri menargetkan mendapatkan izin eksploitasi pada tahun 2018. (http://walhijatim.or.id/2016/09/banyuwangi-riwayatmu-kini/)

Bahkan luasan konsesi tambang dapat lebih luas lagi, hingga berdekatan dengan kawasan taman nasional Meru Betiri. Pembukaan investasi melalui program pembangunan nasional, baik yang ada di dalam Renstra ESDM, Paket Kebijakan Ekonomi, serta program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintan. Pada dasarnya telah membuka ladang penderitaan baru dalam bingkai “kesejahteraan sosial”.

 

Menerka Mudharatnya (merugikan) Tambang Emas

Tumpang Pitu hancur, selain gunung dan hutan, juga mengancam sekitarnya. Pulau merah, pantai pancer dan segala keanekaragaman hayati yang ada. Mungkin karang-karang yang indah, ikan-ikan yang vatiatif bahkan hewan khas dan langka seperti penyu akan terancam keberadaannya. Ini membuktikan jika satu kawasan konservasi memiliki banyak sekali relasi, tidak hanya soal ekologi namun juga sosial-ekonomi.

Kehancuran Tumpang Pitu akan berdampak pada kawasan taman nasional Meru Betiri, secara tidak langsung mereka akan terancam oleh keberadaan tambang. Selain itu faktor ekonomi akan menjadi ancaman yang cukup serius. Warga yang menggantungkan hidup pada kearifan lokal dan alam akan terganggu. Petani, nelayan, sektor pariwisata terutama sektor menengah kebawah, menjadi sektor vital yang akan hilang jika pertambangan ini dilanjutkan.

Kearifan lokal dalam konteks budaya juga akan mengalami perubahan. Pergeseran budaya masyarakat, gotong royong, menjadi corak masyarakat individualis. Rawan terjadi gesekan serta konflik horizontal, yang mengakibatkan hilangnya keberagaman. Budaya yang awalnya sakral serta mempunyai nilai, akan bergeser menjadi komoditas pasar. Tentu akan menimbulkan penindasan serta penghisapan baru di sektor ini. Sentimen agama juga akan muncul, seiring keberpihakan oknum agama tertentu pada penghancuran ekologi, jelas akan beririsan dengan keyakinan agama lain yang mempunyai ritual berkaitan dengan alam (Tumpang Pitu).

Banyuwangi sebagai salah satu daerah dengan keberagamannya, kini terancam oleh ekspansi kapital. Bagaimana bisa citra yang ditampakkan seolah-olah humanis, namun realitasnya sangat jauh sekali. Warga disekitar Tumpang Pitu sudah bertahun-tahun berjihad melawan tambang, guna menyelamatkan keberagaman justru dihajar oleh mereka yang punya kuasa. Di satu sisi mereka gembar-gembor keberagaman, amar ma’ruf nahi munkar, namun melupakan menolong sesama manusia bahkan mahkluk lain seperti pohon dan hewan.

 

Puncaknya ialah beberapa di kriminalisasi, baik soal perusakan, penghadangan, hingga yang terbaru dituduh tanpa bukti menyebarkan komunisme. Ideologi yang menjadi momok orde baru dan kaum-kaum konservatif-militeristik. Ideologi yang dengan mudahnya dituduhkan hanya karena simbol serta atribut. Ideologi yang dituduh sebagai dajjal, iblis, yang senantiasa menghantui. Bahkan dengan mudahnya menuduh seseorang komunis dan teroris, hanya karena ingin mempertahankan tanah dan alamnya.

 

Melihat Hukum Perusakan Alam Dalam Perspektif  NU

Terancamnya sektor alam yang mempengaruhi sektor lain, hingga hubungan antar manusia. menciptakan pertumpahan darah, kebencian dan disintegrasi masyarakat, merupakan tindakan yang sangat bertentangan dengan Islam. Apalagi pernah ada pengharaman tambang melalui bahtsul masail NU Banyuwangi pada 2009. Berdasar pada kaidah fiqh yang menyebutkan darul mafasid muqoddamun ala jalbil masholeh‘ yang berarti membuang kejelekan itu lebih baik dari mengambil kebaikan. Secara hukum diperkuat dengan argumen bahwa,  Pembangunan industri harus merealisasikan tujuan syariat, yakni berpihak pada maslahah ammah (kepentingan umum). Sebaliknya, tindakan yang bertolak belakang dengan maslahah ammah, dengan kata lain mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup, dikategorikan sebagai perbuatan munkar atau maksiat yang diancam dengan hukuman. (http://www.nu.or.id/post/read/54003/tata-kelola-sda-dan-muktamar-nu-di-cipasung-20-tahun-lalu).

Selanjutnya merujuk pada muktamar ke 29 di Cipasung pada tanggal 4 1994/1 Rajab 1415 H di Cipasung Tasikmalaya. Menetapkan jika umat yang mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah,  apabila menimbulkan dlarar, maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat). Hal ini sangat erat kaitannya dengan maslahah ammah, bentuk takzim kepada sang pencipta. Karena yang namanya merusak lingkungan, baik penebangan hutan, penghancuran gunung, privatisasi air, pencemaran lingkungan, terutama yang mengancam mahkluk hidup merupakan perbuatan munkar.  ( Baca : Taushiyah NU tentang Pelestarian Hutan dan Lingkungan Hidup )

Seperti yang tertulis di poin ke tiga dan empat, sebagai warga Nahdlatul Ulama harusnya memahami hal ini.

  • Warga NU dan seluruh elemen masyarakat WAJIB menolak dan melawan para perusak hutan, perusak lingkungan hidup, perusak kawasan pemukiman, para pengembang teknologi, pengembanga bahan kimia dan uranium yang membahayakan masyarakat dan lingkungan hidup, para penyebar penyakit sosial, pihak-pihak yang melakukan monopoli ekonomi dan menyebabkan kemiskinan yang merugikan masyarakat, bangsa dan negera.
  • Warga NU dan seluruh elemen masyarakat WAJIB memperjuangkan pelestarian lingkungan hidup (jihad bi’iyah) dengan mengembangkan gerakan menanam dan merawat pohon, mengamankan hutan, melakukan konservasi tanah, air dan keanekaragaman hayati, membersihkan sungai, pantai, lingkungan, perumahan dan kawasan umum, membersihkan kawasan industri dari polusi dan limbah, melestarikan sumber-sumber air dan daerah resapan air, memperbaiki kawasan pertambangan dan lingkungan di sekitaranya, membantu melakukan penanggulangan bencana, melanjutkan perjuangan yang bersifat kemasyarakatan (jihad ijtimaiyah), mengembangkan ajaran moral, tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan amar ma’ruf nahi munkar, jati diri bangsa dan rasa cinta tanah air, produktif dan kreatif, hidup sederhana, anti korupsi, semangat dan gemar melakukan kerja keras dan kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas, melanjutkan perjuangan menyejahterakan masyarakat dalam bidang ekonomi (jihad iqtishodiyah) dengan mengembangkan lapangan kerja, memberdayakan kaum mustadh’afin, meningkatkan produktivitas dan kreativitas masyarakat, membangun ketahanan pangan dan energi nasional, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, menetralisir penetrasi pasar global dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Perusakan Tumpang Pitu merupakan hal yang dapat menimbulkan  dlarar (kerusakan), oleh sebab itu haram hukumnya untuk dilakukan. Sebagimana keputusan Bahtsul Masail pada tahun 2009 oleh NU Banyuwangi, merupakan keputusan yang sudah tepat. Keberagaman dan kedamaian yang hilang tidak akan bisa tergantikan oleh emas. Pertanian terbukti bisa menyejahterahkan rakyatnya, bahkan laut dengan keanekaragamannya bisa menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Semua akan terjaga asal perilaku boros dihilangkan dan berpedoman hidup sederhana sesuai ajaran Nabi Muhammad. SAW. Ibadah tidak hanya masalah transendensi antara manusia dengan Allah, namun juga menyelamatkan mahklukNya jauh lebih penting untuk saat ini.

Wallahul Muqaffiq Illa Aqwamith Thoriq

Penulis : Wahyu Eka. S


Bagikan agar bergema