Pak Bian dan Jalan Perjuangannya…!

Bagikan agar bergema

Mbah Bian dan Herlambang P. Wiratraman

Innalillahi wa innalillahi rojiun….

Lemas dan sesak hati rasanya! Mas Arna mengabarkan meninggalnya Pak Bian kemarin siang, 19 Mei 2017. Tak kuasa, menahan air mata ini. Sedih, karena mengingat sosok beliau yang kukuh menyemai semangat perlawanan, tetap bersahaja dengan kehidupan sederhananya di kampung.

Saya hanya ingin menuliskan sedikit hal kehidupannya. Semoga manfaat meneladaninya.

Pak Bian, begitu orang kampung mengenal dan memanggilnya. Sejak pertama kalinya mengenal di tahun 1999, sosoknya tak pernah terlupakan. Ia saksi sejarah penindasan terhadap warga kampung Wongsorejo. Warga Bongkoran, diusir dan dipaksa menyingkir dari tanah ladangnya, karena perampasan tanah yang manipulatif dilakukan oleh PT Wongsorejo. Mengapa disebut manipulatif? Kebohongan diciptakan melalui cap jempol jari bagi seluruh warga, khabarnya untuk proses legalisasi tanah rakyat. Nyatanya, perampasan tanah untuk perkebunan swasta. Jadilah, perkebunan kapuk di kampung itu. Petani, menjadi buruh tani, TKI, atau bertransmigrasi. Sejak saat itu juga, warga kampung tercerai berai.

Siapapun yang melawan kehendak pemerintah, pastilah di-PKI-kan. Peristiwa di sekitar tahun 1970an itu, dijelaskan panjang lebar oleh sesepuh kampung, mbah Musinem, dan tokoh warga pak Haji Husein. Pak Bian, saat itu ikut menyimak, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk menyatakan secara terbuka di tengah pertemuan.

“Itu cerita benar, saya juga saksinya. Semua ikut cap jempol jari, tetapi saya tidak. Tapi katanya nama saya ada dalam daftar yang ikut jempol jari!”. “Dokumen tanah PT Wongsorejo itu bohong, pak. Saya berani bersumpah!”. Begitulah yang saya ingat perjumpaan awal dengannya. Pak Bian, sejak saat itu menjadi motor dan penggerak untuk meyakinkan warga Bongkoran, bahwa tanah-tanah perkebunan itu semua hasil merampas tanah rakyat.

Selang tahun, bersama tokoh atau sesepuh petani yang lain, ia berdiri di depan setiap langkah perjuangan kaum tani Bongkoran bergerak. Entah ke kantor Bupati, ke gedung Dewan (DPRD), atau ke kantor pertanahan setempat. Ia selalu ikut, dibonceng motor pemuda-pemuda kampung, ke kabupaten yang berjarak 3oan km, untuk sekadar menuturkan sejarah dan ikut mendesakkan kehendak warga agar pemerintah membantu mengembalikan tanah-tanah rampasan PT Wongsorejo itu. Permohonan penyelesaian hukum melalui mekanisme pencabutan hak, telah ditempuh puluhan kali.

Rupanya, sejak itu, keberaniannya terpaksa dibayar sangat mahal atas pengobanan diri dan keluarganya. Tahun 2001, ia dilaporkan PT Wongsorejo ke Polsek, atas tuduhan merusak tanaman perkebunan. Ia sama sekali tak gentar, di hadapan Polsek ia menegaskan, “… tanaman kebun kapuk telah merusak kehidupan keluarga dan warga kampung selama puluhan tahun lamanya!” Tak lama berselang, ia diculik. Tapi karena warga kompak mereka menuntut ke semua pihak untuk melepaskan pak Bian. Tiba-tiba, selang 2 hari ia dilepas melalui perantara Kepala Desa setempat. Ia menuturkan, “itu preman-preman dan satu orang oknum TNI, Wayan namanya!”. Aksi itu, jelas pesannya, agar warga petani menghentikan berjuang tanahnya.

Jelaslah tak mempan bagi warga. Kali ini pukulan lebih keras lagi.

Mei 2001, serombongan aparat Brimob dengan 3 truk mendatangi warga dengan senjata api. Warga dikumpulkan, diperlakukan seperti binatang. Dipukuli, ditendangi, dibentak tak kunjung henti. Hingga akhirnya, Ponijan, anak pak Bian disuruh menjauh dari kerumunan warga, bukan dilepas, melainkan ditembaki. Siapa yang tahan mengetahui dan menyaksikan tubuh anak lelakinya tertembus peluru panas. “Lubang kecil di belakang, dan jebol di depan. Peluru Moser, pak Her!” Entah, apa itu, saya tak paham jenis peluru dan senjata api. Ponijan dilarikan ke RSUD Blambangan, Banyuwangi, dengan penjagaan ketat aparat kepolisian. Tidak ada yang berani menjenguk, karena dikhabarkan siapapun yang datang, akan ditahan aparat. Saat itu, Abdul Majid, petani dan sejumlah petani lainnya, ditahan.

Mendengar kabar itu, bergegas berangkat dari Surabaya menuju Wongsorejo, saat itu juga. Saya ditemani kawan-kawan Papanjati, terutama Gus Mus (Mustofa), tokoh warga Sumberanyar dari Pasuruan bersama sejumlah petani lain. Gus Mus, satu-satunya kawan yang bisa menyetir mobil Zebra putih milik LBH Surabaya.

Di gubug lereng hutan itu, kami menjumpai pak Bian. Dari raut wajah dan penuturannya, tergetar suara lirih dan ringkas, “Pak Her, saya siap apapun yang terjadi. Tanah itu tanah rakyat! Mengulang, seakan ia meyakinkan saya, agar jangan mundur dalam membantu warga. Kami mengakhiri perjumpaan dengan saling berpelukan. Warga menyaksikan itu semua, hingga akhirnya bersepakat membagi tugas, sebagian menuju berjaga di kampung, sebagian menuju Banyuwangi untuk memberanikan jenguk kondisi Ponijan, dan sebagian lain, Pak Haji Husein, Mbok Sul dan Yateno, menuju Polda Jatim di Surabaya untuk melaporkan peristiwa ini.

Tengah malam, kira-kira jam 01 dini hari, berdua (lupa dengan siapa) berhasil menjumpai Ponijan terbaring dengan terus menahan rasa sakitnya. Ia tak banyak bicara, dan saya hanya menyampaikan pesan pak Bian. “Kuat ya mas!” begitulah saya sendiri sesungguhnya tak bisa banyak berucap dan menunjukkan seolah-olah tegar dihadapan mas Ponijan.

Usai itu, kami bergegas ke Surabaya. Rupanya, penangkapan dan penahanan terus terjadi. Dari awal, agak curiga karena mengetahui Stasiun Banyuwangi dipenuhi truk dan aparat kepolisian. Ternyata benar, mereka mengejar dan menahan Yateno, tokoh muda yang memimpin pergerakan petani. Selama dua hari tak jelas khabarnya. Hingga akhirnya saya putuskan kembali ke Banyuwangi, untuk menemui Kapolres, yang saat itu dijabat Anton Setiadji (saat ini Kapolda Jatim). Tujuannya satu, memastikan apakah petani-petani yang tidak jelas khabarnya berada dalam posisi tahanan Polres. Kalau tidak, kami akan sebut penculikan. Melalui telpon, Cak Munir lah yang saat itu membekali kami bagaimana cara menghadapi situasi seperti itu. “Mereka semua dalam keadaan aman, tidak ada kekerasan”, begitu Kapolres berujar.

Akhirnya semua dilepaskan selang beberapa minggu, tanpa melalui proses peradilan apapun. Bukannya berhenti, penangkapan, kriminalisasi terus terjadi terhadap banyak petani di Wongsorejo, silih berganti, dari Bupati ke ganti Bupati yang baru. Tak luput pak Bian pula mengalami penangkapan dan pemenjaraan, karena tak kunjung menghentikan perjuangan untuk tanahnya.

Sekali, saya menjumpai di penjara. Pak Bian sembari menggenggam tangan erat, menegaskan, “bangsa iki urung merdeka! … wong pinter malah ngakali wong cilik, dikorbanke koyo aku iki!” Ia menambahkan, “anak-cucune dewe ojo nganti sengsoro koyo aku, mboh piye carane!”. (bangsa ini belum merdeka! Banyak orang cerdik pandai justru mengelabuhi orang-orang kecil, menjadi korban seperti saya ini. Anak cucu kita jangan sampai sengsara kehidupannya, entar bagaimana caranya!).

Saya tak pernah lupa. Matanya semakin rabun, tetapi cara memandang kehidupan bangsanya semakin tajam nan jelas. Tak pernah pula bosan mendengar tutur bicaranya yang terus menyemangati siapapun. Bulan Oktober tahun lalu (2016), di acara front nahdliyin di kampung Wongsorejo, kami berjumpa dan sempat foto berdua. Tak biasanya, ia menggunakan baju batik, biasanya kaos lusuh. “Mbah, agemane sae sanget!” Saya panggil Mbah, bajunya bagus sekali, sekalipun saya tahu sebenarnya bajunya kebesaran untuk ukuran tubuhnya yang kian hari kian kurus.

Tak biasanya, pak Bian pulang dari ladang sampai siang. Mas Ponijan mencari bapaknya. Sugik, anak bungsu pak Bian, melalui telpon sore ini, menceritakan, bahwa sesungguhnya Bapak (pak Bian), meninggal dalam keadaan duduk, di atas tanah ladangnya yang dirampas PT Wongsorejo. Ia sedang menanami pedesan (cabe), dan mas Ponijanlah yang menemukan dan membopongnya.

Pak Bian, insya Allah, meninggal dengan husnul khotimah, dilapangkan Allah SWT jalan menuju syurgaNya. Kita yang masih di alam ini, mari meneruskan jalan perjuangan yang telah diterangkan dan dihidupkan oleh almarhum…..

Penulis : Herlambang P. Wiratraman 

 

* untuk Bupati Banyuwangi Abd. Azwar Anas, …. anda telah kehilangan kesempatan emas untuk memperjumpakan keadilan baginya. ( Baca : Surat Terbuka untuk Bupati Banyuwangi )


Bagikan agar bergema