Pasang Lagi Walau Sebelumnya Dirubuhkan

Bagikan agar bergema

BANYUWANGI – Walau sebelumnya pernah dirubuhkan aparat, baliho kembali dipilih warga sekitar Gunung Tumpang Pitu (Kec. Pesanggaran, Banyuwangi) sebagai media ekspresi penolakan tambang emas di hutan Tumpang Pitu.

Dulu, dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional (20/5) sejumlah warga Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran menyatakan sikap penolakan keberadaan tambang emas di gunung Tumpang Pitu dengan mendirikan baliho di pertigaan Pasar Sapi.

Namun baliho bergambar petani membawa cangkul bertulisakan “Kami tidak butuh tambang, kami hanya petani yang menyambung hidup dari tanah dan air” itu hanya bertahan 10 hari saja, Pada Kamis 31 Mei 2018 baliho tersebut dilepas oleh oknum petugas satpol PP. Akan tetapi baliho dapat diambil kembali oleh warga saat itu juga.

Pencopotan baliho pada bulan Mei lalu ternyata tak menyurutkan semangat warga. Terbukti, pada Sabtu 16 Juni 2018 lalu (di hari kedua Idulfitri 1439 H) sejumlah warga kembali mendirikan Baliho pernyataan sikap.

Nur Hidayat salah satu warga yang terlibat dalam pendirian baliho ini mengatakan, pemasangan ulang baliho ini sebagai simbol bahwa perjuangan warga menolak keberadaan tambang emas di gunung Tumpang Pitu tidak akan pernah padam.

“Kalau dirubuhkan, Kita dirikan lagi. Dirubuhkan lagi, kita dirikan lagi. Sikap kami tegas, dan tak akan pernah padam,” tegas Nur Hidayat.

Sementara itu Perno yang juga ikut mendirikan baliho menyatakan, pendirian baliho bertepatan dengan momen 2 syawal ini bertujuan agar warga yang sedang memanfaatkan momen lebaran kedua dapat melihat bagaimana sikap masyarakat menolak keberadaan tambang.

“Biar warga yang sedang berlebaran kesini tahu bahwa kami terus berjuang menolak keberdaan tambang emas,” ujar Perno.

Untuk diketahui, Tumpang Pitu awalnya adalah hutan lindung, namun demi memuluskan operasi PT Bumi Suksesindo (BSI), pada tahun 2013 Zulkifli Hasan (saat itu Menteri Kehutanan) telah menurunkan fungsi Tumpang Pitu menjadi hutan produksi.

PT Bumi Suksesindo (BSI) adalah operator tambang emas Gunung Tumpang pitu, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi yang merupakan anak perusahaan PT. Merdeka Copper Gold, TBK.

Perusahaan itu mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksploitasi Produksi sejak tahun 2012 seluas 4.998 ha di blok Gunung Tumpang Pitu, Kecamatan Pesanggaran.

Selain PT. BSI, PT. Merdeka Copper Gold, TBK juga memiliki anak perusahaan bernama PT Damai Suksesindo (DSI) mengeksplorasi blok Gunung Salakan di kecamatan yang sama, seluas 6.623,45 ha.

Warga sekitar Tumpang Pitu telah berkali-kali melakukan unjuk rasa menolak tambang emas. Penolakan keberadaan tambang emas tersebut didorong oleh keyakinan warga bahwa tambang emas akan mengancam keselamatan mereka dan merusak lingkungan.

Di mata warga, Gunung Tumpang Pitu adalah kawasan penting karena dianggap sebagai benteng alami dari terjangan tsunami. Bagi nelayan, Tumpang Pitu menjadi penting lantaran jadi penanda arah pulang. (Tim Media Forbanyuwangi)


Bagikan agar bergema