Pejuang Agraria dan Lingkungan Membangun Solidaritas di Kampung Bongkoran

Bagikan agar bergema

BANYUWANGI — Sebanyak 20an pejuang agraria dan lingkungan dari empat daerah di Pulau Jawa bertemu di Kampung Bongkoran, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur pada Jumat-Minggu, 10-12 November 2017. Mereka yakni: warga Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta; warga Sedulur Sikep dari Pati dan Rembang, Jawa Tengah; warga Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi; dan terakhir warga Kampung Bongkoran.

Dalam tiga hari itu, mereka menginap untuk mengenal kehidupan warga Kampung Bongkoran yang telah berjuang selama 17 tahun untuk mempertahankan hak atas tanahnya. Peserta diajak saling belajar dan berbagi pengalaman masing-masing mengenai pola advokasi dan pengorganisasian. Acara yang difasilitasi Protection International itu juga dihadiri Kordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, Gunretno.

Acara berlangsung dalam tiga tahap. Pada hari pertama, setiap peserta saling berkenalan dan mengeksplorasi konflik yang sedang dihadapi. Di hari kedua, peserta yang dibagi menjadi empat kelompok berdiskusi lebih mendalam sambil mengikuti aktivitas tuan rumah. Berbagai informasi dan pengetahuan baru yang didapat kemudian didiskusikan oleh seluruh peserta di hari akhir pertemuan.

Pejuang agraria dan lingkungan dari empat daerah tersebut menghadapi konflik berbeda. Nelayan Pulau Pari misalnya sedang berjuang melawan upaya privatisasi pulau mereka oleh perusahaan swasta. Padahal nelayan di sana telah tinggal turun-temurun di pulau seluas 40,3 ha. Bahkan pada 11 Maret 2017, tiga nelayan yang mengelola kawasan wisata Pulau Pari menjadi korban kriminalisasi karena dituding melakukan pungutan liar.

Masyarakat Sedulur Sikep di Pati dan Rembang berjuang menolak pembangunan pabrik semen yang akan membongkar Pegunungan Kendeng. Sebab Kendeng menjadi kawasan resapan air yang amat penting untuk konsumsi dan pertanian warga setempat.

Warga Pesanggaran sejak 2008 berhadapan dengan perusahaan tambang emas yang menambang di Gunung Tumpang Pitu. Padahal selain sebagai kawasan tangkapan air, Gunung Tumpang Pitu menjadi tameng bencana tsunami. Aktivitas tambang dikhawatirkan dapat menyebabkan krisis air dan limbahnya mencemari lautan yang menjadi tempat bergantung ribuan nelayan. Sebanyak 14 warga mengalami kriminalisasi dalam kurun dua tahun terakhir.

Sementara 287 keluarga petani di Kampung Bongkoran masih berjuang untuk mendapatkan hak atas tanahnya seluas 220 ha dari pemerintah. Tanah tersebut telah ditempati petani sebelum Indonesia merdeka, namun dialihkan sebagai Hak Guna Usaha perkebunan randu kepada perusahaan perkebunan swasta pada 1980an seluas 603 ha. HGU itu sedianya habis pada 2012, akan tetapi pemerintah malah menerbitkan Hak Guna Bangunan pada 2014 dan hanya memberikan 60 ha kepada petani.

Kang Gun (sapaan akrab) sedang mengisi acara di Bongkoran

Kepada peserta pertemuan, Kordinator JMPPK, Gunretno, mengatakan, forum ini sangat strategis untuk membangun konsolidasi antara korban pembangunan, terutama di kalangan petani. Sebab perjuangan petani akan mudah dikalahkan saat bergerak sendiri-sendiri dan eksklusif. “Kalau petani se-Pulau Jawa bisa membangun solidaritas bersama, maka perjuangan akan sangat kuat,” kata Gunretno, Jumat malam, 10 November.

Gunretno banyak membagikan tips bagaimana terjal dan panjangnya perjuangan petani Kendeng. Sejak 2010, petani Kendeng telah melakukan perlawanan dengan berbagai cara, mulai aksi jalan kaki, memblokade pintu masuk menuju pabrik semen, gugatan ke PTUN hingga mengecor kaki di Istana Negara. Perjuangan itu bahkan juga diperkuat dengan kemenangan petani Kendeng di Mahkamah Agung. Akan tetapi pabrik semen tetap beroperasi dan negara seolah tak berdaya menghadapi korporasi.

“Ini semua tak membuat semangat kami surut, kami tetap bersemangat,” kata dia.

Besarnya energi perjuangan petani Kendeng memang memberi inspirasi bagi banyak gerakan petani. Sebab berhasil mencuri perhatian publik dan memperoleh dukungan pemberitaan yang besar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Menurut Gunretno, perjuangan mereka bukan untuk warga Sedulur Sikep sendiri melainkan untuk seluruh rakyat. Oleh karena itu, dia berpesan agar petani selalu konsisten untuk berjuang dan mengelola aksi dengan kreatif.

“Perjuangan ini bukan untuk kami. Ini perjuangan untuk menjaga agar lingkungan tetap lestari. Sebab kondisi bumi kita semakin rusak.”

 

Membangun Solidaritas

Penanggung jawab acara, Adit Satria dari Protection International, mengatakan, tujuan forum tersebut adalah bagaimana agar terbentuk solidaritas antara warga yang menjadi korban pembangunan. Solidaritas sangat penting untuk saling memperkuat warga yang sedang berjuang. Sebab meski ada keragaman isu, akan tetapi benang merah yang mempertautkan korban adalah persoalan hak yang diabaikan oleh negara.

“Rakyat berhak memperoleh lingkungan hidup yang sehat, hak atas kehidupan layak dan hak memperoleh pekerjaan. Hak-hak inilah yang dilanggar oleh negara,” kata Adit, Minggu 12 November.

Adit menilai, selama ini gerakan petani masih berjalan dengan agendanya sendiri-sendiri, belum membangun aliansi bersama dalam skala besar yang stabil. Penyebabnya, karena antar organisasi petani belum terjalin kontak, kekurangan informasi, dan stamina yang mudah mengendur. Momen untuk memperluas jaringan dan solidaritas tersebut saat ini muncul dengan hadirnya perjuangan petani Kendeng.

Oleh karena itu, kata Adit, dengan bertemu dan saling belajar dalam forum ini menjadi awal untuk membangun aliansi yang lebih luas di Pulau Jawa.

Para peserta pertemuan memberikan respon positif dengan acara tersebut. Zainal Arifin warga Pesanggaran, mengatakan, baru mendengar kasus yang dialami petani Kampung Bongkoran meski sudah puluhan tahun bermukim di Banyuwangi. Bahkan dia sangat terkejut melihat kondisi kampung yang terpencil di antara perkebunan randu, tanpa jalan beraspal, dan tanahnya yang tandus.

“Saya hampir tak percaya di sudut Banyuwangi ada kampung seperti ini. Benar-benar tersisihkan dari pembangunan. Sangat kontras dengan pendapatan asli daerah Banyuwangi yang melimpah ruah,” kata aktivis penolak tambang emas ini.

Antar warga pun bersedia saling memberi dukungan. Seperti yang disampaikan warga Pulau Pari, Asmaniah. Dia beserta warga Pulau Pari bersedia membantu warga Bongkoran dan Pesanggaran apabila akan berjuang ke Jakarta.

“Silakan, kami siap membantu kawan-kawan,” kata perempuan berjilbab ini.

 

(Tim Media ForBANYUWANGI)


Bagikan agar bergema