SIDANG SATUMIN, KOCAKNYA SAKSI SUMANAN

Bagikan agar bergema

 

Keterangan foto: Sumanan ketika memberikan kesaksiannya.

Tawa pengunjung putaran ke-9 Sidang Satumin meledak ketika dengan jenaka Sumanan menirukan cara menebas kopi. Siang itu, Kamis 20 September 2018, petani penyadap getah pinus itu diperiksa kesaksiannya di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi. Ketua Majelis Hakim Saptono, SH, MH, mulanya bertanya tentang banyak-tidaknya tanaman kopi di tempat kejadian perkara (TKP) dan sekitarnya. Sumanan menjawab, tanaman kopi memang ada, tetapi sebagian tak terpakai. Menurutnya, sebagian kopi yang bergerombol lantaran tumbuhnya liar dan tak ada yang merawat.

Penyadap yang satu dusun dengan Satumin itu menyatakan, kopi yang liar tumbuh bergerombol itu menyulitkan pekerjaannya sebagai penyadap. Sumanan mengaku sulit mengakses pohon yang hendak disadap, jika pohon yang dimaksud dikelilingi gerombolan kopi liar.

“Kalau saya, ya saya tebas.Tak kethok iku (saya potong itu, red.). Khan ngganggu sama sadapan saya,” kata Sumanan.

“Oh, ngganggu ya?” tanya Hakim Saptono.

“Kalau ngganggu sama sadapan saya, ah iki opo iki ngganggu (ah apa ini ngganggu). Yo khan marine piye (Ya khan habisnya bagaimana)? Khan kalau nyadap gini. Amit, saya praktekkan ya,”

“Butuh tenaga besar berarti ya? Berarti harus kuat? Berarti Pak Satumin itu kuat ya?”

“Oh, hebat dia itu, pak. Dia naik ondo (tangga untuk menyadap, red.) itu sampai 3 meter. Hebat dia, pak. Makanya, kalau dia ditahan, saya ndak terima. Bebaskan saja dia, pak,”

Seluruh pengunjung sidang tertawa saat melihat gaya kocak Sumanan ketika meminta majelis hakim membebaskan Satumin.

Siang itu, pria berusia 50 tahun itu diajukan Tim Kerja Advokasi Gerakan Rakyat Untuk Kedaulatan Agraria (Tekad Garuda) sebagai saksi. Untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah penyadap yang seprofesi dengan Satumin, Sumanan sengaja memakai seragam penyadap. Di hadapan majelis hakim, Sumanan mengenakan seragam tersebut: kaos oranye lengan panjang dengan tulisan “Mitra Kerja Perhutani” di bagian punggungnya.

Untuk diketahui, sebenarnya Satumin dan Perhutani KPH Banyuwangi Barat sudah sejak lama bermitra. Berdasarkan kronologi yang disusun Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya, pada tahun 1995, Perhutani KPH Banyuwangi Barat secara lisan mengizinkan Satumin untuk menanam jagung di sela-sela tanaman pinus milik Perhutani. Selanjutnya di tahun 2002, petani yang lahir di Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kec. Songgon itu mendaftarkan dirinya sebagai penyadap getah pohon pinus yang tumbuh di hutan produksi Perhutani. Di tahun 2007, atas saran Asper Perhutani, guna menambah pendapatan, Satumin menanami sela-sela pohon pinus dengan cabai dan jahe.

Di tahun 2010 Satumin menjadi anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Green Forest. Enam tahun kemudian, di 2016 Satumin menanam 200 bibit jahe dan kopi di wilayah kelola Perhutani KPH Banyuwangi Barat. Mengetahui adanya penanaman kopi yang dilakukan Satumin, seorang Mantri Tanam bernama Mastur melarang keberlanjutan kegiatan penanaman tersebut. Akibat pelarangan itu, Satumin pun meninggalkan tanaman kopi dan jahe yang telah ditanamnya.

Dua tahun setelah meninggalkan tanamannya, Satumin pun berencana menjenguk jahe yang pernah ditanamnya. Pada tanggal 16 Januari 2018, Satumin bersama istrinya mendatangi tanaman-tanaman jahe yang dimaksud. Hanya berbekal cangkul, Satumin berupaya untuk mengeluarkan rimpang jahe dari dalam tanah, sementara Istrinya membantu membersihkan rimpang tersebut dengan tangan kosong.

Ketika sedang membersihkan rimpang-rimpang jahe itulah datang 4 orang Polisi Hutan (Polhut). 3 orang Polhut mencabut 20 batang tanaman kopi yang sebagian tumbuh liar. Lantas, 20 batang tanaman kopi tersebut diikatkaan ke cangkul Satumin. Lalu, para Polhut tersebut memaksa Satumin untuk memegang cangkul yang terikat dengan kopi kemudian, kemudian Polhut memotretnya.

Usai pemotretan, 4 orang tersebut membawa Satumin ke Kantor Polisi Sektor (Polsek) Songgon, Banyuwangi. Dua hari setelah itu, pada tanggal 18 Januari 2018 terbit Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan dari Polsek Songgon, Resor Banyuwangi Nomor: B/1/I/2018/SEK.SGN. Surat tertanggal 18 Januari 2018 tersebut menerangkan dimulainya Penyidikan tindak pidana “Perkebunan tanpa ijin di hutan lindung” yang diduga dilakukan oleh Satumin. Dalam surat itu, dijelaskan pula bahwa Perkebunan tanpa ijin yang dimaksud adalah sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (2) huruf a dan b yo Pasal 92 ayat (1) huruf a UU RI No. 18 Thn 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H).

Terbitnya surat tersebut di atas berdampak pada rutinitas harian Satumin. Setiap pekan, Satumin harus menyediakan waktunya untuk melakukan wajib lapor. Sejak Januari 2018, setiap hari Senin dan Kamis, Satumin harus berangkat menuju Kantor Polsek Songgon untuk melaksanakan wajib lapor.

Puncaknya, pada tanggal 26 Juli 2018 Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi menerbitkan Surat Perintah Penahanan (Tingkat Penuntutan) Nomer: Prin-281/RT.3/EP.3/07/2018. Berdasarkan surat tersebut, pada tanggal yang sama Satumin ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Banyuwangi.


Bagikan agar bergema