Swadaya Petik Laut Pancer, dan Ibu Rumah Tangga

Bagikan agar bergema

Suasana Petik Laut di Pancer (2/10/2016), Background Gunung Tumpang Pitu (foto: Doc fitri)
Suasana Petik Laut di Pancer (2/10/2016), Background Gunung Tumpang Pitu (foto: Doc fitri)

Kampung nelayan Pancer adalah satu dari sekian kampung nelayan di Kabupaten Banyuwangi bagus potensi perikanan lautnya. Bagusnya potensi perikanan laut Dusun Pancer terlihat dari banyaknya jumlah warga di sana yang memilih nelayan sebagai mata pencaharian. Catatan Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim) mennginformasikan, tak kurang dari 1.000 orang warga Pancer menggantungkan nafkah kepada perikanan laut. (Baca : Banyuwangi Riwayatmu Kini)

Seperti kebanyakan kampung nelayan lainnya di Indonesia, kampung nelayan yang secara administratif merupakan bagian dari Desa Sumberagung, Kec. Pesanggaran ini pun memiliki acara petik laut sebagai ungkapan rasa syukur atas melimpahnya hasil laut.

Fitriyati—warga Pancer yang akrab saya panggil “Mbak Fitri”— menceritakan susana suasana acara Petik Laut Pancer yang dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2016 lalu.
“Petik laut di Pancer itu diadakan secara swadaya oleh warga, tanpa adanya duit dari tambang,” begitu ia bercerita melalui sms.

Menjadi wajar jika dalam pesan tersebut Mbak Fitri memberi tekanan kepada bahasan ada-tidaknya duit dari perusahaan tambang. Sikap Mbak Fitri tersebut bersumber dari konsitensi sikapnya selama ini. Sejak dulu Mbak Fitri menolak tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu. Ini karena dia meyakini bahwa tambang tersebut lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Menurut Mbak Fitri, Gunung Tumpang Pitu itu benteng alam yang melindungi warga dari tsunami. Dengan adanya Gunung Tumpang Pitu saja tsunami tahun 1994 sudah bikin hancur Dusun Pancer, terus bagaimana jika nanti tsunami datang tapi Tumpang Pitu sudah rata sama tanah karena ditambang? Kurang lebih begitu pertanyaan Mbak Fitri. Saya pun berpikiran sama dengan Mbak Fitri. Itu masih tentang tsunami, masih belum tentang limbah tambang yang akan mengancam kampung nelayan Pancer yang sangat dekat dengan tambang itu. Jarak dari Gunung Tumpang Pitu dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pancer kurang lebih 8,3 km. Sementara Jarak (calon) kolam penampungan limbah tambang ke TPI Pancer kurang lebih 6,7 km. Sedangkan lokasi tambang itu sendiri berjarak kurang lebih 3 km dari pemukiman penduduk.

Menjadi wajar pula jika Mbak Fitri berusaha keras ingin menunjukkan bahwa Petik Laut Pancer 2016 itu tak menggunakan dana dari perusahaan tambang. Menurut Mbak Fitri sikap semacam itu diperlukan untuk membuktikan bahwa masyarakat Pancer masih bisa berbuat sesuatu tanpa harus meminta-minta dana tambang. Menurut Mbak Fitri, sikap semacam itu diperlukan untuk membuktikan bahwa orang Pancer masih bisa cari makan tanpa perlu mengemis dana CSR tambang.

Konsistensi sikap Mbak Fitri dalam menolak tambang emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu ini bukannya tanpa resiko. Mbak Fitri sadar dengan resiko tersebut. Sekalipun dia hanya ibu rumah tangga biasa, dia ambil resiko tersebut. Jeruji ruang tahanan adalah resiko dari sikapnya. Mbak Fitri dituding oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai pelaku penghasutan dalam aksi massa penolakan tambang emas Tumpang Pitu yang berlangsung bulan November 2015 lalu. Setelah beberapa bulan merasakan ruang tahanan, alhamdulillah pada bulan Mei 2016 Majelis Hakim memutuskan tersangka Fitriyati (Mbak Fitri) tidak terbukti bersalah melakukan tindak penghasutan.

Karena itu, menjadi wajar jika sekarang Mbak Fitri masih “keras kepala” ingin menunjukkan bahwa Petik Laut Pancer 2016 samasekali tak menggunakan dana CSR tambang.
Menjadi wajar pula jika hingga hari ini Mbak Fitri “keras kepala” menolak tambang emas Tumpang Pitu. Selain karena yakin bahwa mudharat tambang emas Tumpang Pitu lebih besar daripada manfaatnya, konsistensi sikap Mbak Fitri ini adalah hasil dari tempaan resiko yang telah dipikulnya. Ruang tahanan adalah resiko, dan Mbak Fitri berani mengambil resiko tersebut. Jadi wajar jika tempaan resiko itu hari ini membuahkan konsistensi sikap.

 

Penulis : Rosdy.    Editor : Team redaksi


Bagikan agar bergema