Tumpang Pitu ; Ketika ‘Ibu Bumi’ Melawan Penguasa dan Pemodal

Bagikan agar bergema

Senyatanya, perlawanan warga di sekitar TUMPANG PITU terhadap kerakusan pemodal tambang yang bercumbu dengan muka manis penguasa bukan hanya terjadi pada 9 dan 10 Maret 2017, tapi sudah beberapa tahun sebelumnya. Apa yang luar biasa dari gerakan perlawanan beberapa hari yang lalu itu adalah keberanian para perempuan untuk MELAWAN secara langsung kepongahan penguasa. Ketika backhoe yang dikendalikan oleh nafsu rakus dan merusak hendak menggali tanah untuk menanam kabel PLN pesanan BSI, para perempuan menduduki tanah. Ketika backhoe berhasil mengeruk tanah, mereka tetap melakukan perlawanan.

Para perempuan dengan gagah berani–mengabaikan rasa takut terhadap monster backhoe dan ketegasan aparat yang berasalan menjaga “obyek vital nasional” dan mensukseskan pertambangan–masuk ke dalam lubang dengan kedalaman sekira 2 meter. Inilah bentuk kearifan lokal perempuan untuk memperjuangkan IBU BUMI yang mampu menghidupkan manusia dengan segenap cinta kasihnya yang luar biasa. Dalam sebagian besar kebudayaan di muka bumi, keyakinan IBU BUMI (Mother of Earth) merupakan apresiasi terhadap bumi yang tidak pernah lelah menumbuhkan bermacam tanaman, mengalirkan air, dan menyediakan diri untuk dijadikan tempat segala hal oleh manusia. Perempuan, sejatinya, adalah representasi IBU BUMI dalam kehidupan di bumi ini. Bukan hanya karena kemampuannya melahirkan kehidupan baru, tetapi juga karena kemampuannya terus menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan. Sepertihalnya, Dewi SRI yang meskipun sudah meninggal tetap menghadirkan kebaikan dan kesejahteraan buat manusia.

Para perempuan di sekitar TUMPANG PITU tentu bukan tanpa pertimbangan melakukan perlawanan gagah berani itu. Mereka adalah subjek yang sangat menyadari bahwa kehadiran tambang emas akan membawa dampak destruktif, dari sianida, merkuri, rusaknya sumber air, tercemarnya air laut dan ikan, serta berkembangnya ketegangan sosial akibat perpecahan antarwarga, yang setuju dan tidak setuju. Kesadaran itulah yang menjadikan mereka tidak pernah takut menghadapi backhoe dan para aparat keamanan yang dibayari dari pajak yang mereka bayarkan. Sebagai representasi IBU BUMI, para perempuan itu menolak untuk membiarkan tanah dan lingkungan tempat tinggal generasi sekarang dan masa mendatang hancur oleh bahan-bahan berbahaya tambang. Tidak seperti para penguasa yang karena rayuan pajak dengan “suka hati” memberikan izin dan menjamin proses pertambangan di TUMPANG PITU dengan bermacam fasilitasnya.

Sebagai IBU BUMI, para perempuan itu tidak pernah merasa sendiri meskipun media mainstream tidak banyak memberitakan perlawanan mereka. Para perempuan itu berteman semesta dan sesama manusia yang masih punya pikiran sehat bahwa “manusia bisa hidup tanpa emas, tapi tidak tanpa air”–mengutip kata-kata sahabat saya, Rosdi Bahtiar Martadi. Biarkanlah media mainstream ‘bercumbu’ dengan penguasa dan pemodal untuk memberitakan ramai dan gebyar Banyuwangi Festival yang mendunia itu agar bermacam penghargaan didapatkan. Para perempuan itu tidak akan silau oleh bermacam penghargaan yang diraih pemimpin, karena yang mereka perjuangkan lebih mulia dari sekedar keramaian festival dan kebanggaan akan penghargaan. Para IBU BUMI itu memperjuangkan kehidupan dan kebahagian yang berhak untuk dinikmati warga negara; sebuah kenyataan yang kini dirampas oleh penguasa dan pemodal dengan jaminan keamanan aparat.

Para perempuan di TUMPANG PITU akan terus berjuang dan melawan meskipun orang-orang yang mengajari mereka cara bersyukur kepada Tuhan melalui ritual agama kini diam dan, dalam banyak hal, malah mendukung kebijakan penguasa. Keyakinan akan IBU BUMI rupa-rupanya lebih menjadikan mereka semakin yakin bahwa alam ini perlu dijaga karena berkaitan dengan mata rantai kehidupan yang harus terus dihidupkan dan perjuangkan. Maka, “biarkanlah para ahli agama membangun mimbar, para perempuan itu membangun mimbar mereka sendiri” yang harus menghadapi backhoe dan aparat keamanan: dua entitas yang harus menuruti keinginan penguasa dan pemodal. Para aparat itu sepertinya sudah lupa dengan slogan mereka sendiri: “bersama rakyat”, “mengayomi rakyat”. Biarlah, karena mereka baru akan mengerti ketika BUMI murkah dan menghadirkan bermacam bencana di mana anak dan istri mereka juga akan merasakan akibatnya.

Perlawanan para perempuan di sekitar TUMPANG PITU adalah sebuah penanda bahwa IBU BUMI sudah mulai marah dengan kesombongan penguasa dan pemodal. Hari-hari berikutnya perjuangan itu tentu akan semakin panjang demi sebuah keyakinan: HARKAT HIDUP ORANG BANYAK LEBIH PENTING DARI PADA KEPENTINGAN RAKUS PENGUASA DAN PEMODAL.

“KITA BERSAMA RAKYAT TUMPANG PITU”

 

Ikwan Setiawan
Jember, 12 Maret 2017
Matatimoer Institute

*Terima kasih kepada Sunandiantoro Anang Soski dan kawan2 ForKoMM yang telah memberikan informasi tentang perkembangan hari ke hari di TUMPANG PITU


Bagikan agar bergema